=======
=== ===

::Pencarian Cepat::

Memuat...

Jumat, 29 Oktober 2010

Antara Mbah Maridjan dan Mati Syahid

Belakangan ini Indonesia kembali harus mangalami duka beruntun yang membuat air mata bangsa ini tak berhenti mengucur. Beberapa waktu lalu ada banjir Bandang Wasior di Papua yang bagaikan tsunami di bumi cendrawasih, bahkan hingga kini belum selesai penangannya. Pada Senin malam 25 Oktober 2010 sekitar pukul 21.42 WIB Gempa besar 7,2 skala Richter memicu tsunami di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Dalam waktu berdekatan berturut-turut gunung merapi yang memang statusnya terus meningkat akhirnya meletus pada tanggal 26 Oktober 2010 sekitar pukul 18.00 WIB. Lagi lagi Indonesia sedang dirundung duka mendalam dengan cobaan bertubi-tubi yang terus terjadi lewat pesan Alam. Sedih memang,, sebuah introspeksi diri besar-besaran bangsa ini harus terus dilakukan jika tak ingin Tuhan terus murka lewat pesan-pesan yang disampaikannya dari Alam.


Tapi ada cerita menarik yang terjadi pada letusan gunung merapi 2010 ini, sehari setelah letusan hebat merapi pada 26 Oktober sore,, banyak berita mengabarkan tentang seorang kakek tua yang diamanahi menjadi Juru Kunci Gunung Merapi oleh raja Keraton Jogjakarta Sultan Hamengkubuwono IX. Ayahanda Sultan Hamengkubuwono X yang sekarang menjabat Raja sekaligus Gubernur D.I. Jogjakarta. Yup,, semua pasti tahu, Mbah Maridjan. Tokoh Juru Kunci Merapi yang justru menjadi bintang iklan pasca meletusnya Merapi pada 15 Mei 2006 lalu sebagai tokoh tangguh lewat salah satu iklan produk Jamu.

Singkat cerita, mbah Maridjan, sang Juru Kunci Merapi ini tetap tak mau di evakusai ketika tim sar dan banyak pihak membujuknya untuk segera menjauhi merapi pada detik-detik setelah meletusnya gunung ini. Beberapa sumber menyebutkan saat Merapi meletus sekitar waktu magrib di Jogjakarta mbah maridjan meninggalkan wartawan dan tim sar yang membujuknya untuk mengungsi dan memilih untuk melaksanakan solat magrib ke arah Masjid yang dekat dengan kediamannya. Korban pun berjatuhan,, sehari setelah meletusnya merapi jasad yang dipastikan adalah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sedang sujud,, seperti salah satu gerakan dalam Sholat (Ibadah Umat Islam). Banyak Headline news mengabarkan Mbah Maridjan Mati Syahid,, termasuk koran daerah lokal di kota saya.

====
Bicara tentang mati syahid,, saya jadi ingat tentang salah satu hikayat cerita yang pernah saya baca. Agak lupa sumbernya. Intinya kisah itu menceritakan tentang seorang Fulan yang tak henti memohon pertolongan tuhan saat terjebak bencana banjir. Air banjir pun terus meninggi,, banyak orang memintanya untuk mengungsi dan menyelamatkan diri,, tetapi dia memilih diam saja di tempatnya dan terus berdoa. Si Fulan sangat yakin dengan doanya,, karena Tuhan pasti mendengarkan doa hambanya. Si Fulan terus berdoa agar Tuhan menyelamatkannya dari banjir. Saat air banjir terus meninggi datang perahu penyelamat meminta orang itu untuk di evakuasi ke tempat yang lebih aman. Si Fulan menolak. Dia terus berdoa karena yakin tuhan pasti memberi pertolongan padanya dari bencana banjir ini.

Air pun terus meninggi hingga tubuhnya terus terendam. Datang lagi perahu bantuan yang datang untuk menyelamatkannya, namun si Fulan terus menolak. Ketika air bah dari banjir sudah mencapai kepalanya hingga hampir tenggelam si Fulan masih terus berdoa meminta pertolongan Tuhan. Datang lagi perahu ketiga yang berniat menolongnya. Namun lagi-lagi si Fulan menolak hingga akhirnya dia terhanyut banjir dan meninggal dunia.

Ceritanya si Fulan kemudian meninggal dan berada di negeri Akhirat,, kehidupan setelah mati. Saat diadili Tuhan si Fulan protes keras pada Tuhan karena tidak menjawab doanya dan membiarkan dia mati konyol tersapu banjir. Tuhan pun menjawab bahwasannya doa si Fulan sebagai hambanya telah dikabulkan Tuhan dengan mengirimkan 3 perahu penyelamat untuk mempertahankan nyawa si Fulan. Namun si Fulan menolak ke-3 pertolongan Tuhan tersebut dan akhirnya mati atas pilihannya sendiri.
====

Yup,, ternyata tawakkal,, penyerahan diri pada Tuhan pun bukan semata-mata menyerah dan tidak bertindak sama sekali. Justru tawakkal harus didahului dengan Ikhtiar,, dengan sebuah usaha maksimal,, barulah Tuhan akan mengirimkan jawaban terbaiknya atas usaha maksimal yang sudah dilakukan seorang hamba.

Dari kisah hikayat diatas saya sama sekali tidak ingin menghakimi siapapun tentang mati syahid. Sekali lagi penilaian tentang syahidnya manusia,, baik buruknya amalan dia dan penentuan di akhirat pun sebetulnya hanya hak preogatif milik Allah,, Tuhan Semesta Alam. Dialah yang maha tahu siapa sebenarnya hambanya...

Mudah-mudahan Almarhum Mbah Maridjan mendapat tempat terbaik disisi Allah,, sesuai dengan amal ibadah dan pengabdiannya selama hidupnya.

=)

pic: kaskus.us, poedjituhan.edublogs.org


3 komentar:

  1. setuju :)

    secara pribadi ga mau sok tau apakah mbah Marijan mati syahid atau bukan. Tapi secara umum, menurut gue sebaiknya kita ikhtiar menyelamatkan diri dari bencana, bukannya membiarkan diri celaka.

    eh eh, pertanyaan kamu udah saya coba jawab tuh di blog saya ^^,

    BalasHapus
  2. postingan'y keren bosssss
    oh ya saya sudah masukan link anda........
    masukan link saya juga ya......

    BalasHapus
  3. @de asmara,, trims jawabannya,, seneng bgt bisa jadi pertimbangan :D, maaf lama ga konsen ninggalin blog,, hihi
    @ketapang,, trims teman =)

    BalasHapus

::jangan cuma numpang baca::
Kasi komentar juga ya! ;)
*thx

::statistik::

Entri Populer

Tas Lucu Unik Murah

Pengikut

 
========== ==========