=FB=LAMA===== ==HAPUS= ===

::Pencarian Cepat::

Kamis, 15 September 2022

Bermasker Tapi Tak Bermasker

Halo dunia blog, akhirnya saya punya sedikit energi untuk iseng nulis lagi disini. Mudah2an bisa sekedar melepas penat dan unek-unek ya. Heheum


Okey tiba-tiba saja terlintas di benak saya tentang apa yang menjadi judul tulisan ini. Yup, sebetulnya memang saya ingin menulis tentang kebiasaan kita manusia yang memang tempatnya salah dan lupa. Apakah itu? Ya rupanya ternyata kita ini seringkali melakukan sesuatu yg unfaedah. Haha. Begini ceritanya:

Belakangan ini kan mau tak mau sebetulnya saya rasa orang Indonesia sudah hampir lupa pernah adanya wabah mematikan yg memakan banyak korban jiwa bernama pandemi covid. Iya gak sih? Coba lihat orang diluar sana sekarang sudah berani-betaninya mereka beraktivitas tanpa masker. Termasuk saya juga (kadang2 kalo lagi khilaf). Kerumunan sudah kembali bergeliat, konser, pasar, mall. Salaman jabat tangan yg dulu dihindari sekarang sudah makin akrab saling menempel dan kadang berpelukan (kyk teletabis). Peduli lindungi yang dulu wajib scan dimanapun kita mendatangi tempat umum skrg hanya cuma pajangan barcode scanner yg warnanya mulai usang. Belum lagi pak security pemegang termo-gun yang juga agak malas menembakan termometer ke jidat pengunjung.

Sebetulnya jika memang sudah beneran aman, pemerintah tinggal cabut kewajiban memakai masker. Selesai. Namun kan ternyata rupanya kemarin juga sempat boleh tanpa masker di ruang terbuka, namun sekarang wajib masker lagi dan belum ada perubahan aturan lagi sejak saat itu (sampai saya menulis ini). 

Nah itulah sebabnya saya mengangkat judul bermasker tapi tak bermasker ini. Bagaimana tidak, sekarang orang hanya bermasker sekedar menjalankan kewajiban. Okey pemerintah menyuruh bermasker, tapi nafas saya pengap jika hidung dan mulut yg ditutup masker. Akhirnya terjadi peralihan fungsi dimana sekarang masker digunakan sebagai penutup dagu, mungkin juga penyembunyi janggut. Kadang saya juga yg lagi males cukuran membiarkan kumis dan brewok saya tumbuh tanpa dirapihkan. Biarin aja kan ketutup masker. Hahay. Ada juga yang pakai masker karena belum sempat dandan 💄💋👑 dan lupa pakai lipstik. Nah loh! 

Akhirnya jadi mirip berkacamata tapi tak berkacamata. Yah itu tuh.. Seperti orang yg pake kacamata katanya untuk membuat matanya yg minus jd bisa melihat normal, tapi kacanya diturunkan disimpan di hidung, mungkin karena capek juga katanya agak pusing efek pakai kacamata itu bagi beberapa orang. Belum lagi yg nyimpan kacamatanya diatas kepala.. Lah memangnya rambut kita punya mata 👀? Eh. Ga lama dia panik kesana kemari nyari dimana kacamata saya??? Heheheu. Sepertinya ga lama lagi jg akan banyak orang panik nyari dimana masker saya? Padahal nempel di dagu. Ada pula rekan saya yg menjadikan masker sebagai penutup mata saat dia tidur siang di masjid kantor. Wkwkwk... 

Ya begitulah manusia. Memang lucu dan iseng. Tapi ada baiknya kita menggunakan atau melakukan sesuatu itu harus sesuai fungsinya. Jangan cuma buat gaya atau sekedar menunaikan kewajiban. Misalnya ya itu tadi pakai masker sekedar karena diwajibkan pemerintah. Sekedar tempel di dagu atau leher. Jadinya ga sesuai esensi dan manfaatnya. Kuman virus bakteri tetap bisa dengan bebas masuk hidung dan mulut kita donk kalau begitu. Padahal tujuan bermasker kan menghindari itu. 

Ngomong-ngomong kewajiban. Saya jadi ingat solat saya yang kadang juga berasa cuma sekedar menuntaskan kewajiban tanpa saya ingat esensinya. Sekedar solat, komat kamit tapi lupa, hati tak merasa, tak paham saya meminta apa tadi kepada Tuhan,  selesai bubar, dan kembali ke dunia nyata tanpa ingat bahwa solat harusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ah dasar manusia tempatnya salah dan lupa. Ya Allah ampuni solat-sholat saya yang sering melupakan kehadiranmu. Semoga mulai sekarang saya bisa menjalankan sholat yg tak sekedar kewajiban, sholat khusyuk, yang menjadi  dialog hamba dengan Tuhan-nya, dengan Dia sang Maha Esa. Solat yg menguatkan saya ketika lemah. Yang memberi saya semangat selepas lelah. 

Bismillah... Adzan Ashar berkumandang diluar sana.. Mudah2an kali ini sholat saya lebih baik dari sebelumnya. 









========================================= ~written by *cupZ* from bdg with love...~ =fb=komen=

Jumat, 04 Februari 2022

😡 MARAH!!!

😡 MARAH!!! 

Suatu hari di momen resmi perpisahan atas kepindahan pekerjaan, aku ditanya: "Kenapa sih kamu selama 5 tahun di kantor ini dikenal tak pernah marah, bahkan kebanyakan senyum menghadapi berbagai tipe orang yg ditemui?", waktu itu kujawab aku hanya marah jika Persib kalah. 

Yah memang entah kenapa, saat Persib kalah bertanding kadang aku merasa seperti wanita yg sedang PMS. Senggol dikit bacok. Haha kasar banget sih itu. Nggak se-ekstrim itulah. Mungkin karena terlalu cinta. Tapi at least, jika persib kalah emg rasanya tubuh ini jd lebih sensi aja. Gak suka diledekin, apalagi ada yg gangguin. Siap siap akan kena terkam*. Becanda lagi. Saya bukan singa kok, gabisa menerkam lawan. Heu




Okey saya emang jarang bisa marah. Tapi malam ini saya sedang ingin MARAH. Apa sebab? Begini ceritanya: Malam-malam begini istri curhat tentang kelakuan guru di sekolah anakku. Mata yg sudah tinggal 5 watt mendadak kini terbelakak. Intinya anakku sdh ga dianggap lagi ada di kelas itu! Seharusnya murid di kelas ini berjumlah 19 siswa, sudah dikonfirmasi sebelumnya dan sang guru mengiyakan ada 19 siswa termasuk anak kami. Namun tercatat dalam 2 kali momen absensi di grup kelas itu, si guru hanya menghitung 18 murid. Ada 1 orang tersisa, siapa lagi kalau bukan anakku. Arrrghhh Kezel kan? KZL no. 1

Orangtua mana yg takkan marah jika anak tercintanya tak dianggap di sekolah? Memang anak kami sekarang sedang punya kendala utk sekolah tatap muka. Ia tipe anak yg tidak mudah utk bertemu orang baru. Kami butuh bantuan profesional utk menangani psikologis anak seperti ini. Dan di sekolah swasta seperti inilah harapan kami anak bisa dibimbing psikolog ataupun guru BK nya. Namun tak seperti di sekolah lain, sudah 1 semester lebih tak kunjung kami dapati psikolog anak di sekolah ini. 

Anak kami memang blm bisa hadir secara fisik di sekolah.Tapi mbok ya bukan begini caranya mengusir murid keluar dari sekolah. Kami butuh support moril dan dukungan nyata dari sekolah. Kami tahu ada murid baru yg masuk di kelas itu sehingga anak kami yg notabene-nya butuh perhatian khusus malah ditinggalkan. Cari murid baru yg tidak 'bermasalah' yg penting uang bayaran masuk kantong. 

Hey! Wahai guru dan sekolah yg terhormat. Kami menyekolahkan anak kami disitu gak gratisan loh,, anak kami  telah lolos ujian masuk dan bahkan telah membayar lunas biaya sekolah 6 bulan sebelum dimulainya tahun ajaran baru. 

Bukan cuma ttg absensi anak kami yg tak lagi dianggap keberadaannya. Di lain kesempatan istriku pernah menyempatkan diri bertemu guru wali kelas untuk mengambil tugas di sekolah. Saat bertemu, istriku mengajak gurunya videocall dgn anak dirumah, maksudnya supaya mendapat perhatian dan minimal say hello guru kepada murid. Ternyata apa yg terjadi? Si guru seperti enggan menyapa anakku di vcall, hanya bilang Oya udh tau kok bu sdh kemarin ketemu waktu bersama Ayahnya kesini. Sama sekali ga ada perhatian kepada muridnya yg punya kendala bersekolah, padahal anak saya sama-sama siswa murid ibu guru looh. Jangan dibeda-bedakan. Bahkan harusnya guru punya inisiatif menanyakan kabar murid yg tak sekolah, melakukan home visit. Dan melakukan hal lain sebagai bentuk perhatian. Kzl no. 2.

Anda tau apa yg terjadi waktu saya sebagai ayahnya mengajak anak ke sekolah agar mau ketemu gurunya? Saat itu anakku memang tak mau turun dari kendaraan karena dia masih punya ketakutan jika bertemu dgn org baru. Bukannya menyambut anak murid yg tak mau brgkt sekolah dgn ceria riang gembira, yg ada si guru ini malah menolak dengan alasan ia mau pergi ke bank. Sedangkan saya saat itu sudah ada di lobby sekolah bersama anak. Hellooowwww ini anak muridnya susah payah dibawa utk mau datang ke sekolah, mbok ya gurunya menyambut dengan senyuman kek, ajak anaknya melihat kelas ruang belajarnya kek... Ini harus dipaksa via telpon dulu baru si guru mau menemui anakku di lobby sekolah. KZL no 3.

Okey sebelumnya di SD swasta ini anak kami masuk rangking terbawah dari seluruh murid kelas 1 di 6 kelas yg ada. WHATTT MASIH ADA RANKING DI SEKOLAH SWASTA? Jawabannya Ya! Padahal saya memasukkan anak ke sekolah swasta salah satunya utk menghindari pemeringkatan semacam rangking yg masih di praktekkan di sekolah negeri. Memang bukan rangking raport, tapi rangking hafalan Quran. Mau ngeles bagaimanapun ttp saja ini namanya pemeringkatan yg pasti akan berpengaruh buat psikologi anak dan org tuanya. Kami marah atas publikasi rangking hafalan yg disebarluaskan ini. Dan kami minta pindah kelas. KZL No. 4

Dan akhirnya ketika momen bagi raport semester 1 apakah anda tau bagaimana kami orgtua murid yg sudah membayar lunas biaya pendidikan dipermalukan? Mengingat anak kami pindah kelas, beberapa hari sebelum pembagian raport sy konfirmasi ke guru utk memastikan dimana kami bagi raport. Guru menjawab di kelas baru. Oke datanglah hari H. Dan istri mengantri lama di kelas yg ditentukan, setiap orangtua rata2 kebagian konsultasi 15-20 menit membicarakan perkembangan anaknya di sekolah. Hingga tiba utk bertemu wali kelas, dia malah bingung oh ibunya anak itu, raport nya ada di kelas lama silakan kesana aja. Tanpa sopan santun seolah guru dari kelas baru ini enggan kedatangan murid pindahan yg bermasalah dr kelas lain, apalagi murid pindahan ini punya masalah dgn sekolah tatap muka, lalu track record paling bontot dalam hafalan. Mungkin prestasi anak saya dianggap akan menurunkan standar nilai dikelasnya. Hmmm KZL 5.

Dengan tampang jutek dan tidak berkenan, demikian juga dengan guru pendamping disebelahnya sama sekali tidak ramah dan tanpa memperkenalkan diri atau bertanya kabar sedikitpun ttg perkembangan anak saya. Tidak ada sesi konsultasi sedikit pun saat momen bagi raport. Tidak ada saran dan masukan buat kami sbg orgtua. Sudah capek-capek antri lama akhirnya cuma di pingpong suruh bertemu gurunya di kelas lama. Dari guru di kelas lama di pingpong lagi ke bagian TU. KZL 6.

Beginikah cara sekolah yg baik memperlakukan anak muridnya? Anak kami memang butuh perhatian khusus, bukan cuma dari orangtua, tapi juga dari lembaga pendidikan dimana kami menitipkan investasi anak kami disana. 
Entah bagaimana kelanjutan pendidikan anak kami. Setidaknya malam ini saya tahu. Saya harus segera mengeluarkannya dari sekolah tak beretika ini. Semoga kelak guru-guru yg soleh solehah pintar dan hafiz quran di sekolah ini juga diajari etika, adab sebelum ilmu. 

Akhirnya saya sadar, ternyata saya bisa marah jika seseorang yg saya cintai dilecehkan, dianggap remeh, tak dihargai. Pantaskah saya marah? Silakan anda nilai sendiri. 



========================================= ~written by *cupZ* at the middle of night, from bdg with ANGRY! ...~ =fb=komen=

::statistik::

Entri Populer

Pengikut

 
========== ==========