=FB=LAMA===== ==HAPUS= ===

::Pencarian Cepat::

Senin, 24 Juni 2019

Ke Jakarta Aku Kan Kembali...

seribu kurang sedepa

Kuhabiskan 9 tahun masa kecilku disini, sejak Sekolah Dasar Hingga lulus SMP. Sampai tiba waktuku yang mengharuskan menjauh hingga hampir seribu kilometer jaraknya meninggalkan teman-teman dan sahabat kecilku tanpa pernah kutahu nomor hp dan kontak Whatsapp mereka (dulu blm ada WA, dan hanya bapak-bapak kaya yg pegang HP). Disinilah tempatku mengenal hidup dan pertemanan, ada sedikit juga kisah cinta-cintaan, cinta monyetnya anak sekolah yg malu-malu ga mau ketemu padahal suka. Tapi sepertinya sekarang kita juga sudah pada lupa. haha
Ya, begitulah masa lalu. Kalau pinjam bahasanya koes plus:

terlalu indah utk dilupakan, 
terlalu sedih dikenangkan, 
setelah aku jauh berjalan, 
engkau kutinggalkan.
#Eaa! sudah-sudah ntar keterusan :D

Namun disinilah aku dibesarkan, dan aku pernah berjanji kelak aku yakin akan kembali lagi kesini. Walau ga harus menetap, cuma mampir aja kali yak :D. Males juga liat cuaca panas dan macetnya nyang naujubileh. Kata orang, hidup disini bikin kita tua dijalan. Berangkat kerja subuh anak masih tidur.. pulang ngantor jam 8 malem anak udah tidur pula. Eh busyeet.. kapan family time-nya kalo begino? Tapi bagaimana pun, mau tak mau, suka ataupun tidak, disinilah tempatku dibesarkan: Ciledug.

Lah kok Cileduk? Cileduk mah pan di Tangerang. Napa bukan cerite Jakarte aje ye?
Sabar-sabar, dulu napa bang, begini ni ceritanye. Apanan kemaren-maren orang pada cerita tentang HUT Kota Jakarta, ga mau ketinggalan aye juga mo ikutan dah posting tentang kebetawi-betawian, walaupun telat gpp yak! Ciledug kan betawi juge deket ame Jakarte. Hehehe.

(:balik ke bahasa Indonesia mode on:)
Sebetulnya tempat tinggal saya kecil di Ciledug ini, daerah Karang Tengah namanya, terletak di garis perbatasan Tangerang, Provinsi Banten (dulu masih Jawa Barat) dengan Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Bahasa daerah anak-anak sini lebih kental betawinya ketimbang bahasa sunda (Jabar). Padahal di sekolah muatan lokal kami belajar Bahasa Sunda, bukan bahasa Betawi. itulah sebabnya ketika sekarang anak saya menanyakan masa kecil sering saya bilang, Ayah tinggal di Ciledug Kak, dekat Monas, dekat Jakarta, heheu.

jalan dan selokan tempat aku kecil bermain
Dan hari ini.. kubuktikan janjiku, disini aku kembali! seperti judul lagunya Koes Plus: Ke Jakarta Aku Kan Kembali! Karena memang sudah sepekan lamanya aku bertugas di kota ini, kembali menjadi saksi keunikan Jakarta dan Betawi nya, menjalani hidup yg jauh lebih sibuk dan ramai dibanding dahulu. Berbaur bersama masyarakat betawi, juga berbagai suku lainnya yang menyatu disini.
Walau cuma 14 hari disini, di Jakarta Barat, yang tepat berbatasan dengan Karang Tengah, Ciledug, tempat saya pernah kecil dan bertumbuh. Bersyukur sekali sempat menyambangi tempat saya tinggal dan bermain dahulu, walau sudah tak ada yg dikenali lagi disana. Rumah yg masih sama bentuknya, hanya pagar yg berubah warna. Polisi tidur depan rumah, yang suka dijadikan gawang saat kami main bola di jalanan, tong sampah yg masih belah, tiang listrik, garasi bus jemputan.. ah semua masih sama! Ku datangi juga Masjid dan Sekolah tempat ku mengaji dan menuntut ilmu, bentuk dan warnanya masih sama!

Masjid yg sama yg dipakai warga mengungsi dini hari sekali, dimana aku kecil dulu pernah begitu ketakutan, dipagi buta kami dibangunkan, orangtua kami sudah berkemas membawa bekal secukupnya, karena pada Mei 1998 itu terjadi kerusuhan, penjarahan, hingga pembakaran di Jakarta yg juga merembet hingga ke daerah kami.
Harapku, semoga tidak akan pernah terjadi lagi hal mengerikan seperti itu di negeri tercinta ini. Semoga negeri ini senantiasa dinaungi keberkahan dan lindungan dari Sang Maha Esa, Allah swt. Dimana rakyatnya merasakan keadilan, sehingga tak perlu lagi ada berbagai pertengkaran. Semoga saja tak akan terjadi lagi cerita pilu, karena trauma dan ketakutan itu masih membekas.
Dari meja kerja tempatku bertugas di jakarta barat, kutuliskan cerita ini: ke Jakarta aku kan kembali..

=fb=komen=

Minggu, 23 Juni 2019

Menjadi Pembeli Yang Tidak Ikhlas

ilustrasi
pembeli: "ini berapaan pak?"
Penjual: "Oh itu keripik ubi 10 ribu, cep"
Pembeli: "kalau ini keripik singkongnya, sama 10 ribu juga?"
Penjual: "E,, iyah sama 10 ribu"
Selangkah kaki kemudian si pedagang nampak jumawa mendapat harga yg lebih tinggi dari biasanya. Sekilas pembeli menoleh dan melihat penjual nyengir sambil terkikih. Ia menceritakan hal itu kepada seorang ibu didekatnya. Sayup si pembeli  mendengar pembicaraan itu.

Lima menit sebelumnya seorang pria muda bertalenta* melihat iba seorang bapak tua yang memanggul dagangannya keliling kampung. Sejenak ia berhasrat untuk membeli dagangan pak tua itu, apapun barang dagangannya pemuda ini berniat membayarnya lebih.

Bergegas si pemuda mengejar kemana kira-kira arah bapak ini mengasongkan dagangannya, dari gang satu ke gang lainnya. Akhirnya ketemu! Dan terjadilah transaksi pada awal cerita diatas.

Si pemuda pun pulang dangan rasa tak ikhlas, merasa tertipu, padahal sebelumnya ia ingin membayar lebih supaya bisa menyenangkan hati pak tua, walau cuma sekian ribu perak.

Namun  rupanya sikap pak tua yang ingin sedikit dibahagiakannya itu malah bertolak. Ia seperti menjelek-jelekkan si pemuda di depan orang lain, karena dianggap nggak bisa menawar barang,  dikasih harga segitu mau saja gak pake nawar.

Nilai yang dapat diambil:
1. Kalau mau memberi, ikhlas ya ikhlas saja. Tidak usah mengharap imbalan perlakuan yang baik dari orang yang kita 'baiki'. Eh 'baikan'. Bukan-bukan, 'perbaikan'! Duh ga enak juga bahasanya, yah apapun deh. Tapi tau kan maksudnya...
2. Bukan sepenuhnya salah penjual ketika pembeli ternyata menawar harga lebih tinggi dari harga yang biasanya ia jual. Toh jual beli tetap sah selama ada akad setuju dari kedua pihak.
3. Kalau ngomongin orang, pastikan orangnya tidak ada di dekat kita! Demi menjaga hati dan perasaan orang lain. Nah loh, siapa yg pernah ngmongin orang ternyata sekonyong-konyong yg di omongin ada di dekat kita. Hihi


notes: *) maaf lebayisasi, karena pemuda itu sesungguhnya adalah AKU. Heheu





=========================================
~written by *cupZ* from bdg with love...~ =fb=komen=

Senin, 18 Maret 2019

IG, Aplikasi Paling Nggak Banget Abad Ini

notes: tulisan ini cuma pandangan pribadi si penulis. heheu

Awalnya isi kepala saya ingin membuat judul "Instagram, Aplikasi Terburuk Tahun 2018", karena memang ide menulisnya sudah ada sejak akhir tahun 2018. Ceritanya mau gaya-gayaan review akhir tahun,, tapi ga terlaksana karena kebanyakan mikir. Setidaknya ini adalah postingan pertama saya di 2019, masih hangatlah yaa *maksa xD*. Hingga akhirnya takdir berkata lain, karena tangan saya malah mengetik berbeda seperti yang jadi judul postingan ini.

Kenapa saya bilang IG (instagram) sebagai aplikasi paling nggak banget abad ini? Jawabnya adalah karena memang sepanjang abad ini berlangsung, instagram jadi aplikasi paling jarang dibuka di gadget pribadi saya kecuali sekedar untuk upload foto lagi makan/minum lalu dapat diskon di kedai-kedai yg sedang promo. Haha...

Kehadiran instagram memang perlahan membuat pegiat media sosial mulai beralih meninggalkan facebook. Mungkin lama kelamaan netizen bosan juga dengan konten facebook yang nggak lagi menarik. Apalagi isu keamanan privasi yang menerpa facebook membuat netizen lebih hati-hati. Walaupun tanpa banyak diketahui orang justru facebook dengan cerdas pada 2012 akhirnya membeli isntagram sebelum keduluan oleh google yang juga mengincarnya. Instagram dibeli murah dengan cuma seharga U$D 1 miliar dibandingkan aplikasi chatting masakini, WhatsApp, yang dibeli sensasional dengan banderol U$D 19 miliar. Dari tahun ke tahun pengguna IG pun terus meningkat pesat. Lantas kenapa saya bilang IG nggak banget?
travelingyuk.com
Alasan Pertama | dari segi guna, manfaat, dan fungsinya. Sepenelusuran saya atas keresahan diri melihat kelakuan pengguna IG yang mengkhawatirkan dunia permedia-sosialan, saya kira facebook masih jauh lebih juara, berguna, manfaat, dan lebih berfungsi ketimbang medsos yang satu ini. Ketika kita ditanya apa fungsi dari media sosial, mungkin sebagian akan menjawab "sebagai ajang silaturahmi". Yup media sosial memang bisa mempertemukan kita dengan kawan lama! yang jauh menjadi dekat, yang dekat kian merapat. Itu harapannya. Walau terkadang kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan.

Dan FB (facebook) bisa menjalankan fungsi mempererat silaturahmi tersebut, dimana kita bisa saling sapa melalui status fb, bisa saling berbalas pantun pada dinding/wall FB, bisa japri-japrian alias kirim pesan private. Unggah foto yang dikategorikan dalam setiap albumnya, membuat event dan menginvite teman yang dikehendaki, membuat grup dari komunitas hobi sampai teman sekolah, main game dan mengikuti test kepribadian dan sejenisnya untuk sekedar lucu-lucuan. Semuanya tak lepas dari menunggu like, komentar, dan interaksi (silaturahmi -red) didalamnya. Kita bisa melihat profil lengkap untuk memastikan apa benar pemilik akun ini adalah dia yang kita kenal di dunia nyata, kita bisa pastikan dengan mengecek profilnya mulai dari pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, nama panggilan, info kontak, keluarga, dan info detil lainnya yang mungkin dicantumkan si pemilik akun.

Lantas apa yang bisa dilakukan IG? fungsi utamanya hanya mengupload foto! sama seperti yang bisa dilakukan facebook jauh-jauh hari sebelumnya. Mungkin kelebihannya sebagaimana disampaikan Mark Zuckerberg saat mengakuisisi IG pada 2012 silam adalah kemudahannya dalam mengunggah dan mengedit foto menjadi jauh lebih cantik dari aslinya. Karenanya, jangan mudah tertipu melihat makhluk-makhluk sempurna di media sosial, bisa jadi hanya pulasan teknologi.

Alasan Kedua | Sebagian besar pengguna IG cuma menjadi manusia-manusia pengikut alias followers yang akhirnya ingin hidup seperti orang lain. Jika di FB banyak bertebaran akun-akun palsu para artis dan tokoh terkenal, di instagram justru banyak akun official dari artis dan tokoh, sehingga disinilah potensi hadirnya para followers yang ingin bisa berinteraksi langsung dengan idolanya, tidak lagi tertipu akun palsu seperti di facebook. 

Lalu kemana sebagian kecilnya? yaa.. itu. Merekalah para artis dan selebgram yang punya jutaan followers, yang hidupnya pura-pura sempurna. Padahal kebahagiaan yang ditunjukkan via media sosial, wabil khusus instagram, adalah sama dengan tidak menjamin bahwa kehidupan nyata mereka itu seindah dan sesempurna yang mereka sombongkan. Lihat artis Gisel-Gading yang begitu bahagia dan sempurna hidupnya (#eaa korban infotainment). Mereka keluarga bahagia, banyak duit, rupawan, punya anak pintar lucu menggemaskan di instagram. Tapi tanpa diduga-duga rupanya mereka memutuskan berpisah tanpa kita lihat ada celah kekurangan atau ketidakcocokan diantara mereka. Artinya kehidupan nyata kita ada di depan mata bro... jangan terus terpukau melihat kesempurnaan seorang tokoh atau artis di layar gadget. Mereka, -baik artis atau bukan- hanya ingin menunjukkan (menyombongkan -red.) kesuksesan mereka materi dan non materi agar terlihat sempurna hidupnya dimata orang lain, siapa yang tau dibalik topeng gadget dan instagramnya ternyata mereka pun manusia biasa yang sama seperti kita, punya banyak kekurangan dan keterbatasan.

Alasan Ketiga | Hampir tak ada privasi! Setiap saat followers menunggu postingan baru idola mereka untuk dikomentari. Dengan mudah kita bisa masuk ruang-ruang pribadi para artis dan selebgram, kita bisa tahu rumah mewah mereka, isi ruang tamu dan koleksi barang branded mereka. Bahkan sampai ruang kamar tidur pribadi yang dulu tabu hanya milik pribadi suami-istri sekarang malah diumbar kepada jutaan mata dunia maya untuk bisa memandangnya, mengetahui isinya. Tak jarang foto-foto pribadipun dilepas bebas, pose yang lupa diri, sampai tahi lalat dan tato di daerah tersembunyi bisa kita tahu letaknya padahal takkan terlihat jika cuma melihat akting artis ini dalam sinetron.
hipwee.com
Kisah Fransisca Paisal alias Sispai seorang wanita indonesia yang instagramnya penuh foto-foto traveling keliling dunia dari hasil duit 'menipu' sepantasnya jadi pelajaran buat kita semua. Bahwa instagram bukan segalanya, ingin terlihat keren dan dipuji orang di instagram tak lantas harus membuat kita buta mata hati sehingga menghalalkan segala hal.


Karenanya menurut saya, jika tidak bisa menghentikan selfie selfie kesombongan dan stalking kehidupan sempurna orang lain di IG, setidaknya mulai sekarang mari kita kurangi ketergantungan terhadap aplikasi yg menurut saya nggak banget ini. Matikan instagram, simpan gadget kita, dan buka mata kita melihat kehidupan nyata yang lebih pantas kita hadapi ketimbang memelototi kesempurnaan orang lain yang rupanya cuma semu belaka... saking asyiknya menundukkan kepala tak terasa waktu pun banyak terbuang... 

Kalau orang Jakarta bilang gara-gara jalanan macet mereka tua di jalan, barangkali gara-gara hal ini kita malah jadi tua di medsos.. coba dongakkan angkat kepala, lihat waktu, lihat cermin, diri ini ternyata lupa memoles diri... benahi keluarga, benahi hati, yang justru kering tak disirami.

Karena hidup cuma sekali, yuk buat hadirnya kita memberi arti!


========================================= 
~written by *cupZ* from bdg with love...~
=fb=komen=

Selasa, 30 Oktober 2018

Renungan Tentang Atribut Kebanggaan


Saya terlahir sebagai 'Urang Bandung'.. walaupun 9 tahun masa sekolah dasar dan menengah saya dihabiskan di lingkungan betawi.. rupanya tak menghapus darah sunda yg mengalir di tubuh ini.

Masa putih-abu menjadi momen comeback saya ke kota kembang. Sebagaimana kebanyakan anak laki-laki lain di jawa barat khususnya kota Bandung, hidup kami tak jauh dari obrolan dan kesenangan akan Persib dan Sepakbola. Bahkan saya bisa jamin,, jika di daerah lain org yg tdk saling mengenal bisa tiba-tiba akrab karena rokok dan kopi.. tapi di Bandung dan Jabar, tema Persib adalah hal mudah untuk memulai obrolan akrab, dengan orang baru sekalipun. Bisa di warteg, warung kopi, instansi pemerintah, ruang tunggu dokter, maupun di ruang publik lainnya.

Tidak bisa dipungkiri masa-masa itulah yang semakin mengentalkan saya dgn jatidiri urang Sunda, salahsatunya lewat rasa ingin menunjukkan kecintaan terhadap tim kebanggan rakyat Jawa Barat, Persib Bandung!

Yup, kebanggaan jd bagian dari rakyat jawa barat yang cinta mati dgn klub Persib  Bandung membawa saya tak cuma cinta pakai rasa.. tapi juga ingin ditunjukkan dengan bukti. Dukungan saya untuk tim kebanggaan harus dibuktikan di lapangan.. teriakan saya walau tak terdengar pemain di lapangan tapi bergabung dengan ribuan gemuruh penonton lainnya di stadion harus menjadi suara penyemangat tim yg sedang bertanding. Tak cuma dengan tangan hampa.. karenanya saya harus hadir mendukung dengan atribut lengkap: Kaos, topi, syal, jaket, bendera, dan pernak-pernik atribut lainnya yang serba biru dan serba Persib. Hal ini jd pelengkap wajib yang menambah kebanggan kami. Ya, kami. Bukan cuma saya, tapi banyak bobotoh yg ingin unjuk diri mendukung eksistensi tim. Tak hanya dalam rangka #persibday, kebanggan ini juga sering terbawa dlm keseharian walau bukan jadwal persib, dari sekedar olahraga santai dgn jersey, sehari-hari dirumah dgn kaos biru, berangkat kantor pun bahkan seringkali dengan jaket bernuansa persib. Tak lupa, motor yg dikendarai jg hrs ada stiker persibnya! haha...

Salah kah apa yang saya lakukan? Bagiku sah-sah saja. Selama dilakukan dengan wajar dan tidak berlebihan, tidak mengganggu orang lain. Namanya juga hobi.. menyukai sesuatu yg dianggap menyenangkan lalu menunjukkan ekstistensi dgn segala bentuk pernak-perniknya. Justru tidak sah jika mengaku bobotoh Persib tanpa satu pun atribut dimiliki... bahkan jika dibilang cintaku hanya dihati.. bullshit! Bagiku cinta itu hrs dibuktikan.. salahsatunya dengan atribut kebanggaan. Coba lihat penggila hobi lainnya, hobi mancing pasti punya alat pancing dan segala perniknya, hobi mobil kuno mana mungkin tak punya koleksi mobil kuno atau minimal miniaturnya. hehe

Tak hanya berlaku untuk hobi, pun demikian dengan kecintaan seseorang terhadap agamanya. Bagiku cinta tak sekedar kata-kata.. dalam ktp, atau cuma omongan. Indonesia menjamin kebebasan beragama bagi setiap pemeluknya. Dan setiap tindakan anti agama, atheisme, tidak berketuhanan, termasuk penghinaan agama, sudah sepantasnya ditindak tegas oleh penegak hukum, sebagaimana pernah terjadi pada kasus Ahok. Adalah pantas sekali jika seseorang yang mencintai agamanya, ingin menunjukkan kebanggannya dengan berbagai atribut agamanya lalu terang2an memajang.. atau memperlihatkan keyakinannya tersebut kepada orang lain. Toh agamanya diakui di negeri ini, pasti harus dilindungi sesuai amanat Undang Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti pemain bola, atau artis, atau publik figure, sering saya lihat misalkan menggunakan kalung salib. Atau bahkan tetangga saya yang beragama kristen, terlihat pajangan salib di ruang tamunya. Tentu sebuah kebanggaan bagi mereka yg meyakini itu. Dan saya, walau berbeda keyakinan harus menaruh hormat. Demikian juga agama lainnya. Saya pernah berteman orang Hindu yg punya semacam pura didepan rumahnya. Tentu ia ingin tetangga2nya tahu dan menghormati agamanya, dan itu wajib kita hormati karena Undang-Undang negeri ini menjamin keyakinan umatnya. Pun juga teman SMP saya yang beragama Budha, saya pahami ketika mendapatinya memiliki patung dewa-dewa kebanggannya.

Namun anehnya.. ketika saya pernah berniat ingin memajang stiker berlafadzkan kalimat syahadat di mobil. Pernah juga ingin membeli pernak-pernik semacam topi, kaos, ikat kepala, pin, dsb. yang berlafadzkan kalimat tauhid. Sekedar ingin menunjukkan bahwa saya bangga menjadi seorang Muslim. Malahan saya takut dan mengurungkan niat itu.. entah karena malu.. knp juga harus malu? atau takut disangka yg bukan-bukan, heu Mengerikan! Sepertinya di negeri yg mayoritas penduduknya beragama islam ini justru orang islam sendiri seperti malu menunjukkan jatidirinya, dengan atribut kebanggaan misalnya, malah memunculkan banyak kekhawatiran. Entah itu disangka teroris, atau bahkan takut kalimat tauhid kebanggaan malah dibakar oleh orang yg sebetulnya bukan penegak hukum.

Padahal apa bedanya saya ketika membela persib dgn saya ketika membela Islam, agama yg diakui di negeri ini? apa yg salah dengan menunjukkan atribut agama Islam, bukankah sama saja dengan orang lain yg ingin menonjolkan atribut hobinya masing-masing. Padahal kalimat tauhid adalah penegasan tentang ke-Maha Esaan Allah, Tuhan yg saya yakini. Juga kesaksian akan kerasulan seorang Muhammad SAW, dimana UUD '45 menjamin keyakinan ini diakui dan dilindungi negara.

Ah, aneh betul memang. Padahal kan, cinta jangan dibiarkan cuma di hati. Tapi memang harus dibuktikan,, ditunjukkan!
betul?


========================================= ~written by *cupZ* from bdg with love...~ =fb=komen=

Selasa, 23 Oktober 2018

Barakallah Fi Umrik

23 Oktober 2018

ilustrasi,, heheu
Fa Nifa! Begitu aku biasa me-nyapamu,, tapi itu dulu,, sekitar 7 tahun yang lalu. Mungkin waktu itu dirimu juga belum tau kalau aku suka kamu. heheu Biarlah kunikmati sendiri rasa itu, dulu.

Dan sekarang kita sudah bersama, ga cuma berdua, tapi berempat, ditemani dua krucil rupawan yang insya-Allah soleh dan gagah berani.

Hari ini bertambah usiamu,, inilah hari pertama usia barumu bersama si bayi gemay, Baby D! Karena tahun lalu kita masih bertiga saja bersama kakak R,, hehe. Kini semakin matang dirimu. Makin cantik,, ga cuma rupa tapi juga hatimu. Makin penyabar, pengertian, dan yang paling bikin ku senang sekarang tambah pinter masak. Coba ini coba itu,, kue ini kue itu,, dan aku bagian mencicipi, masya Allah nikmatnya masakan istriku! Bikin bangga,, punya istri pinter masak :) :) :)

Padahal aku tau dirimu harus tambah repot mengurus kk yg mulai sekolah,, baby D yang masih minum ASI,, apalagi kalau mereka sedang rewel. Waaaah repotnya. Sedangkan aku? mungkin kalem saja kerja didepan komputer, ga paham gmn repotnya ibu yang mengurus anak. Maafin aku ya istriku,, dalam segala keterbatasan ini, akulah yang selalu ingin melihat senyummu, senyum bahagia karena hadirnya diriku disampingmu.

Doaku untukmu,, semoga bahagia selalu ada di dekat kita semua. Sebagaimana tukang parfum yg memercikan wangi bagi siapa saja yang berada di dekatnya, demikian juga harapku, semoga kita.. kamu, aku, dan keluarga kita senantiasa dekat dengan orang-orang soleh, yang lurus jalannya, yang kesolehannya menular untuk sekitar,, mengantarkan kita menggapai Ridho illahi.

Teruntuk seseorang disana: Barakallah fi umrik 'fa nifa'!





=========================================
~written by *cupZ* from bdg with love...~ =fb=komen=

Kamis, 11 Oktober 2018

SEJATINYA, SEPAKBOLA ADALAH HIBURAN!

Ini merupakan tulisan yang saya buat sehari setelah kemenangan bersejarah Persib atas Persija 23 September 2018 lalu. Pengennya terbit di media bobotoh ternama, tapi ga lulus sensor kali yah :D. Intinya, Semoga kalian setuju dgn pesan yg saya maksud. Check this out!


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
SEPAKBOLA HARUSNYA ADALAH HIBURAN!

Puas! puas sekali Minggu ini, 23 September 2018. loncat-loncat jingkrak-jingkrak (tapi gapake guling-guling) saya gembira luar biasa menyambut kemenangan Persib Bandung 3-2 atas Persija Jakarta. Gol ketiga Persib dari kepala Bojan Malisic benar-benar menjadi puncak kenikmatan tiada tara... Betul-betul klimaks yang menyenangkan menutup pertandingan pada menit 90 +3 dengan kemenangan yang nyaris gagal diraih.

Bagaimana tidak, kemenangan persib adalah hal mahal yang dirindukan sejak 5 tahun lalu. Dua puluh menit pertama kedua tim malah seperti bermain silat di lapangan sepakbola sehingga tidak berasa bermain sepakbola pro. Maklum mungkin karena ini laga klasik yang tidak hanya menegangkan buat bobotoh anu lalajo, tapi juga buat para pemain di lapangan. Sehingga tensi tinggi itu terkonversi menjadi energi berlebih yang terbalut emosi. Skor 2-2 hingga menit ke-90 tentu hampir mengecewakan kami bobotoh yg rindu menambah jumlah keperkasaan persib atas persija.

Tidak butuh waktu lama, jempol sayapun refleks meng-update status: "enak tidur, nikmat makan, semangat kerja, semua karena persib!"

Still here, Gomez!
Ya, begitulah sejatinya manfaat sepakbola untuk rakyat kecil seperti kami. ialah hiburan bagi kami! ialah pelipur duka lara dikala melanda. Karena persib, seringkali sakit kepala saya sembuh seketika. Karena persib, sejenak saya lupakan hutang piutang. Karena persib, kadang (kadang loh) saya lupa anak istri. Itu semua terjadi kalau persib menang. Tapi taukah aranjeun apa yg terjadi jika sebaliknya yg terjadi? tiba-tiba saja kepala jadi senut-senut, gak nyenyak tidur, males buka sosmed, males baca berita persib, males diajak ngomong apapun, asa hayang sare tapi teu bisa. ceuk pamajikan saya mah nu kieu teh siga kalakuan awewe keur PMS (Pre Menstruasy Syndrome). wkwkwk sy baru nyadar.. ternyata bobotoh pria jg bisa merasakan PMS. hanya karena persib eleh :'). so sad!

Yup mungkin itulah akibat dari fanatisme. tapi saya kira fanatis itu perlu, dan jangan pula ditiadakan samasekali. Jangan dibenci mentah-mentah. Entah itu fanatik terhadap klub sepakbola, terhadap agama, terhadap bangsa. Fanatis adalah bukti kecintaan seseorang atas apa yang dimilikinya. Yang tidak boleh adalah fanatik sempit, istilah ini sy temui di buku PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kala di bangku SMA dulu. Fanatik sempit itu terjadi karena kecintaan diluar batas orang waras, yang karena  cintanya akan sesuatu malah jd benci sekali kepada sesuatu yg berlawanan, dengan kecintaannya dia akan sangat membenci lawan sehingga menganggap halal apa yang haram, ia lupa norma, ia lupa hukum, lupa diri siga jelema belegug weh kalakuanana. misal, karena cintanya pada sang istri lalu seorang suami mengajak gelut tukang sayur langganan, hanya karena tiap hari ketemu istrinya. cik atuh mikir, nu kitu2 wae meni kudu jd ribut. tah... fanatik sempit inilah yang seharusnya dilarang berdiri sejengkal pun di negeri ini. cinta sih cinta, tp sing wajar wae lur.

Punten, seperti pada slogan "Persib Atao Mati". Mangga saja buat mereka yg suka dgn slogan itu. Tapi saya pribadi nggak pernah bercita-cita mati hanya karena persib. Misal, gara2 cinta saya pada persib, lalu saya sekonyong2 datang ke markas persija utk nonton bigmatch persija-persib. padahal aparat keamanan dgn berbagai pertimbangan sudah melarang pendukung persib utk nonton langsung ke lapangan. Mati konyol itu namanya. Masih lebih terhormat org yg mati membela bangsanya, pejuang kemerdekaan, atau mereka di palestina yg syahid membela agama dan tanah airnya. secinta-cintanya saya pada persib, rasanya normal kalau saya msh lebih cinta pada keluarga, agama dan bangsa. heheu

Kembali ke euphoria malam tadi, sekejap nafas saya tiba2 berhenti ketika membaca broadcast grup WA. Bahwasanya diberitakan ada korban jiwa, pemuda asal Cengkareng, Jakarta Barat yg dilaporkan dikeroyok massa di parkiran GBLA.

Kontan berita ini mengusik sukacita saya merayakan kemenangan persib. Kabar ini mengganjal hati yg sedang gembira. bukankah sepakbola harusnya hanya sekedar hiburan??? bukankah sejatinya sepakbola memberi bahagia? kadang kalah kadang menang, kadang senang kadang sedih, tapi itu semua memang bagian dari dinamika. seperti menonton film, harus ada naik turun alurnya supaya klimaksnya dapat. bahagia tidak seharusnya membawa korban jiwa. kebahagiaan yang kita dapat sama sekali tidak boleh menyakiti orang lain. Maka akhirnya kemenangan semalam ternodai oleh kelakuan brutal sejumlah (kalau masih boleh dibilang) manusia kalap penganut fanatisme sempit!

RIP untuk saudaraku Haringga Sirla. Dukacita mendalam atas nyawa yang hilang hanya karena rivalitas. Semoga engkau tenang disana. Saya kira biarlah hanya Rangga Cipta Nugraha yang pertama dan terakhir menjadi pelajaran bagi kita, untuk menjaga rivalitas hanya dlm olahraga di lapangan, bukan untuk dibawa2 ke medan tempur. Tapi hingga Ricko Andrean wafat, bobotoh korban salah sasaran 2017 lalu, rupanya kita tidak juga sama-sama belajar. mengapa harus bertambah lagi? sudahlah hentikan...

Biar hiburan ini dinikmati semua. Beda kesukaan tak seharusnya bertumbal nyawa. kesukaan cuma duniawi, ada lebih banyak urusan kehidupan yg harus kita semua selesaikan didepan sana, bahkan sebetulnya jauh dari semua keduniaan, urusan akhirat itu lebih penting lur, bagaimana setiap tingkah laku kita kelak harus bisa dipertanggungjwabkan didepan sang pencipta.

Mari usir lenyap berantas habis kesombongan dan fanatik sempit dari tanah sunda, dari bumi Indonesia tercinta!!!


=========================================
~written by *cupZ* from bdg with love...~
=fb=komen=

Rabu, 10 Oktober 2018

Kekalahan menyesakkan: Persib vs Madura United


 Stadion Batakan, 9 Oktober 2018

Persib Bandung kembali melanjutkan pertarungan di Liga 1 Gojek 2018, kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Ini adalah partai pertama Persib setelah sebelumnya liga sempat dihentikan dan Persib mendapat banyak hukuman dari sang pengambil keputusan.

Perjuangan mempertahankan pucuk klasemen menjadi perjuangan yang sangat berat bagi tim asuhan Mario Gomez ini. Bagaimana tidak, 10 pemain dari keseluruhan skuadnya tidak bisa membela tim dengan berbagai alasan, mulai dari panggilan tugas negara di Tim Nasional, akumulasi kartu, sampai hukuman larangan bertanding disebabkan tragedi yang terjadi pada pertandingan sebelumnya.

Hukuman yang aneh sebetulnya. Pelaku kriminal sudah dicyduk polisi, suporter sudah dihukum keras sekali hingga setengah musim depan, panitia pelaksana pun dikenai sanksi keras, klub harus terusir mencari kandang diluar pulau, bahkan official dan pemain di lapangan yang tak ada sangkut-paut dengan kejadian tragedi berdarah diluar lapangan tak luput dari hukuman yang mengerikan. Bukankah semua pemain yang bermain kasar sudah dihukum dengan kartu oleh wasit di lapangan, baik kuning maupun merah, setiap kartu yg keluar pun sesuai regulasi liga sudah ada nilai dendanya masing-masing. Lantas kenapa masih ada hukuman larangan bertanding, sampai 5 kali pula! Ini niat menghukum dengan efek jera atau memang mau mengganjal prestasi Persib yang sedang dipuncak klasemen? Sebegitu brutalkah mereka di lapangan sehingga hukuman kartu dirasa blm cukup?

Oke kalau memang ini dirasa harus dilakukan untuk keadilan. Lalu apakabarnya kebrutalan-kebrutalan masa lalu yang juga menelan korban? apa sudah menjawab keadilan bagi para korban? adakah pihak-pihak terlibat diberi hukuman sekeras ini? jika memang harus begini, semoga hukuman ini bukan hanya untuk persib, tapi harus adil untuk semua kelakuan salah yang juga dilakukan pihak lain.

Kembali ke pertandingan Persib vs Madura United malam ini, dengan segala keterbatasan amunisi dan stadion yang sunyi senyap tanpa kehadiran suporter akhirnya Persib harus menyerah kalah pada pertandingan kandang usiran ini, 1-2 menjadi hasil akhir yang menyedihkan. Buat saya pribadi khususnya, ga tau bagaimana perasaan bobotoh yang lain. Yang jelas tiba-tiba saja sesak didada, saya kehilangan mood, ga enak makan, gabisa tidur, ga mau diajak bicara dan semua kekesalan menggumpal dihati.

so sad!

Perasaan sendu ini pernah saya gambarkan dlm sebuah tulisan yang gagal tayang di situs komunitas bobotoh ternama, mungkin ga lolos sensor :D :D. heheheu... daripada dibuang sayang biar saya copas saja disini deh.

Ini merupakan tulisan yang saya buat sehari setelah kemenangan bersejarah Persib atas Persija 23 September 2018 lalu. Semoga kalian setuju dgn pesan yg saya maksud. Check this out!


=========================================
SEPAKBOLA HARUSNYA ADALAH HIBURAN!


Puas! puas sekali Minggu ini, 23 September 2018. loncat-loncat jingkrak-jingkrak (tapi gapake guling-guling) saya gembira luar biasa menyambut kemenangan Persib Bandung 3-2 atas Persija Jakarta. Gol ketiga Persib dari kepala Bojan Malisic benar2 menjadi puncak kenikmatan tiada tara... Betul2 klimaks yang menyenangkan menutup pertandingan pada menit 90 +3 dengan kemenangan yang nyaris gagal diraih.

contniue reading....




:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
~written by *cupZ* from bdg with love...~ =fb=komen=

::statistik::

Entri Populer

Pengikut

 
========== ==========